Apa Kendala-kendala iternal yang dihadapi oleh negara kita dalam melakukann ekspor?

Kendala-kendala yang dihadapi oleh negara kita dalam melakukann ekspor, di antaranya sebagai berikut.
a. Perekonomian negara kita dihadapkan pada ekonomi biaya tinggi (high cost economy), yang ditandai dengan
  1. produktivitas dan kualitas tenaga kerja relatif rendah;
  2. struktur industri dan teknis produksi tidak efisien dan rapuh;
  3. struktur dan prosedur birokrasi sering menimbulkan biaya tambahan;
  4. sistem transportasi dan jalur distribusi laut dan darat yang lamban dan kurang memadai, serta sistem integrasi antarmodal yang lemah di hampir semua jenis angkutan dan distribusi sehingga menganggu ketepatan waktu penyampaian barang dan efisiensi biaya;
  5. mekanisme keterkaitan industri hulu dan hilir yang tidak efisie
  6.  banyaknya industri yang terkait dengan monopoli, oligopoli, dan konsentrasi rasio yang tinggi pada kelompok tertentu, serta kolusi yang samar-samar yang mengkonsentrasikan diri pada pasar domestik
  7.  kondisi moneter yang terlalu peka dan labil terhadap inflasi, nilai kurs, dan tingkat bunga
  8.  ketergantungan terhadap kandungan impor yang tinggi serta industri hulu dan industri strategis
  9. Kawasan Berikat Nusantara (KBN) yang sarat dengan biayabiaya tambahan dan birokratis;
  10.  proteksi yang berlebihan dan berkepanjangan pada industri hulu; 
  11.  kesalahan struktural dalam kebijakan pemerintah serta kurangnya kemampuan dalam bidang rekayasa dan rancang bangun;
  12.  tata niaga perdagangan dan jasa dalam negeri yang berlingkar pada kelompok tertentu
b. Kendala internal lainnya berupa
  1.  lingkar proses bahan baku yang belum memadai untuk industri barang jadi;
  2. . rendahnya tingkat investasi untuk komoditas ekspor, baik investasi domestik maupun asing
  3. . keserasian proses dan mekanisme kerja antara birokrat dan pengusaha masih belum selaras dan harmonis;
  4.  kelemahan dalam informasi pasar;
  5.  proses inovasi dan pengembangan teknologi yang rendah;
  6.  forum Indonesia Incorporated yang kurang berperan antif;
  7.  trading house yang belum berfungsi
  8.  tingginya ketergantungan pada beberapa komoditas ekspor bahan-bahan pertanian dan tambang (90% konsentrasi mata dagangan nonmigas hanya pada 23 komoditi)
  9.  term of trade beberapa komoditas pendukung cenderung merosot
  10. . ekspor masih dalam komoditas pesanan, belum masuk dalam tahap daya saing dan lemahnya respon terhadappermintaan pasar sehingga riskan terhadap perubahan global
  11.  rendahnya upaya strategi promosi ekspor dan budaya ekspor serta tumpulnya ujung tombak atase dan wakil dagang di luar negeri, dan lemahnya kekuatan jangkauan pasar yang hanya terbatas pada akses pasar dari pemiliki merek sebagai pemesan;
  12.  kecilnya peran konglomerat yang ikut bermain dalam pasar internasional, mereka lebih melihat pasar domestik untuk melempar produknya;
  13.  lemahnya jaringan bisnis dan saluran distribusi perdagangan internasional;
  14.  mayoritas industri Indonesia hanya bertumpu pada hasil akhir, tanpa didukung oleh akar industri yang kuat
  15. lemahnya infrastuktur pendukung dan lambatnya kesiapan kelembagaan pendukung, seperti pelabuhan, listrik, telekomunikasi, dan tenaga ahli;
  16. pasar luar negeri yang mendikte bahan baku produksi atau pun pelemparan output produksinya

Tujuan dari strategi pengembangan ekspor nonmigas

Pada masa depan perkembangan perdagangan internasional akan semakin kompetitif, sedangkan kinerja ekspor negara kita justru sedang mengalami penurunan dan masih menanggung beban akibat krisis ekonomi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah harus memiliki strategi pengembangan ekspor nonmigas yang menyangkut kemampuan komponen barang-barang yang secara langsung dapat diekspor (exportable goods), diimpor (importable goods), dan barang-barang yang tidak secara langsung dapat diperdagangkan (nontradeable goods).
Tujuan dari strategi pengembangan ekspor, antara lain:
1. memperlancar arus barang dan jasa;
2. mendorong pembentukan harga yang layak dalam iklimpersaingan yang sehat;
3. menunjangusaha peningkatan efisiensi produksi;
4. mengembangkan ekspor;
5. memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja;
6. meningkatkan dan memeratakan pendapatan masyarakat;
7. memantapkan stabilitas ekonomi.

Strategi pengembangan ekspor nonmigas yang dilakukan, di antaranya sebagai berikut.
a. Melakukan diversifikasi produk ekspor baik diversifikasi produk, pasar, maupun pelakunya. Diversifikasi produk dapat dilakukan secara horizontal dengan cara menggali berbagai jenis produk baru, dan secara vertikal dengan cara menciptakan produk barudari bahan baku yang ada.

b. Meningkatkan daya saing ekspor mengingat pasaran di luar negeri sangat kompetitif. Daya saing tinggi dalam berbagai bidang merupakan salah satu faktor penting dalam perdagangan internasional. Untuk menciptakan daya saing yang tinggi, kita harus meningkatkan produktivitas, efisiensi kerja, kualitas produk,  konsistensi, kepastian dan kesinambungan pasokan, pelayananyang memerhatikan ketepatan waktu pengiriman, pelayanan lainyang dituntut pembeli, sikap ulet pengusaha dalam mengupayakan pemasaran produk, dan kejelian pengusaha membidik alternatif yang terbuka, seperti mendirikan unit pemasaran di negara lain atau usaha patungan.

c. Menjalin kerja sama dengan mitra usaha asing. Hal ini sangat penting dalam menerobos pasar internasional, dengan pertimbangan sebagai berikut
  1. . Dapat memudahkan penetrasi pasar baru, seperti yang dilakukan industri otomotif Jepang (Mitsubishi) yang bekerja sama dengan Jerman (Daimler Benz) dalam merebut pasarotomotif kawasan Eropa Dapat menghindari risiko yang cukup besar dibandingkanmelakukan penerobosan pasar tanpa melakukan kerja sama.
  2. Dapat menekan berbagai biaya, seperti biaya penelitian, pengembangan, dan biaya operasional lainnya.
  3. Dapat menekan kerugian akibat kompetisi sesama pesaing.
  4. Dapat menghindari pencaplokan dari perusahaan yang lebih kuat, terutama perusahaan yang mengalami kesulitan likuiditas.

Beberapa pengertian ekspor

 Ekspor
Dalam perdagangan internasional, ekspor Indonesia terdiri dari berbagai macam barang atau komoditas dan tertuju ke berbagai negara di belahan bumi ini. Barang-barang yang diekspor oleh negara kita dikelompokkan menjadi dua, yaitu migas (minyak bumi dan gas alam) dan nonmigas (hasil-hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, dan industri). Pengelompokkan ini dilakukan karena migas memainkanperanan yang cukup penting dalam percaturan ekspor. Kegiatan ekspor dilakukan oleh eksportir, yaitu perusahaan-perusahaan perdagangan baik yang berbadan hukum, termasuk BUMN, maupun perusahaan yang tidak berbadan hukum, seperti usaha perseorangan atau koperasi yang memiliki SIUP atau izin instansi/departemen/teknis terkait untuk melaksanakan kegiatan perdagangan ekspor komoditi

Beberapa pengertian ekspor.
  1. Kegiatan perdagangan suatu perusahaan yang mengeluarkan barang dari suatu wilayah untuk diperjualbelikan atau diperdagangkan di wilayah pabean negara lain;
  2. Nilai semua barang dan jasa-jasa bukan faktor-faktor produksi yang dijual ke negara-negara lain, termasuk barang-barang dagangan, ongkos pengapalan, asuransi, pariwisata, dan jasa-jasa nonfaktor lainnya, kecuali nilai jasa faktor produksi (seperti dana investasi yang diterima dan kiriman uang dari luar negeri);
  3. Pengiriman barang dan jasa yang dijual oleh penduduk suatu negara kepada penduduk negara lain untuk mendapatkan mata uang asing dari negara pembeli
Peranan ekspor migas sangat besar selama periode oil boom pertama dan kedua, yaitu pada tahun 1970-an hingga awal tahun 1980-an. Pada tahun 1974 (oil boom pertama) sumbangan ekspor migas terhadap ekspor total meningkat lebih dari 400% dari tahun sebelumnya. Pada awal tahun 1980-an (oil boom kedua) ekspor minyak mencapai antara 17 hingga 21 miliar dolar Amerika Serikat. Namun, sekarang ini sumbangan ekspor migas sudah jauh berkurang. Untuk itu pengembangan ekspor nonmigas terus-menerus dilakukan.

Ekspor hasil pertanian, di antaranya ialah getah karet, kopi, teh, tembakau, gaplek, biji coklat, rempah-rempah, biji-bijian, ikan, udang, mutiara, kulit kerang, damar, kopal, sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman obat, dan bahan nabati lainnya. Ekspor hasil industri meliputi kayu olahan, barang-barang dari logam, pakaian jadi, tekstil, karet olahan, makanan olahan, makanan ternak, minyak atsiri, minyak kelapa sawit, asam berlemak, alat-alat listrik, barang anyaman, bahan kimia, pupuk, semen, kulit dan barang dari kulit, kertas dan barang dari kertas, serta berbagai macam komoditas lainnya.a

Delisting dan Relisting

Delisting dan Relisting
Dalam mekanisme perdagangan di bursa efek dikenal istilah delisting dan relisting. Delisting adalah penghapusan pencatatan saham emiten dari bursa. Sedangkan relisting adalah pencatatan kembali saham emiten di bursa. Delisting saham emiten dari pencatatan di bursa dapat terjadi karena:
a. aplikasi delisting dapat diajukan ke bursa atas kemauan perusahaan tersebut, dengan memenuhi syarat sebagai berikut
  1.  disetujui oleh sedikitnya 2/3 dari total pemegang saham minoritas melalui RUPS;
  2.  jika pemegang saham minoritas dalam RUPS menentang rencana tersebut maka emiten atau pemegang saham mayoritas harus membeli saham dari pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui rencana tersebut sesuai dengan harga tertinggi di pasar  regular untuk 6 bulan terakhir sebelum tanggal RUPS;
  3. delisting harus diajukan ke bursa paling lambat empat puluh hari bursa sebelum tanggal delisting.

b. delisting diputuskan oleh bursa terkait peraturan yang berlaku.
Adapun prosedur pelaksanaan delisting adalah sebagai berikut.
1. Jika satu emiten menemui salah satu kriteria delisting, paling lambat satu hari bursa setelah hal tersebut diketahui oleh pihak emiten, bursa akan mengumumkan delisting emiten tersebut dari bursa
2. Jika satu emiten mengalami salah satu kondisi delisting, bursa akan menghapus pencatatan saham perusahaan tersebut melalui prosedur berikut in
  •  Bursa memberitahukan emiten yang sahamnya akan di delisting, termasuk jadwalnya bersamaan dengan hari bursa di mana keputusan delisting dibuat, dan tembusannya dilaporkan kepada Bapepam.
  •  Bursa mengumumkan keputusan delisting emiten tersebut, Termasuk jadwalnya. Pengumuman dibuat paling lambat awal sesi pertama pada hari bursa berikutnya setelah keputusan delisting dibuat
  •  Pada hari bursa yang sama dengan dikeluarkan pengumuman delisting dan jadwalnya, bursa akan mensuspen perdagangan saham emiten tersebut dengan ketetapan suspensi akan dilakukan selama lima hari bursa terhitung sejak tanggal pengumuman suspensi.
  • Saham perusahaan tercatat mungkin diperdagangkan di bursa yaitu di pasar negosiasi, selama dua puluh hari bursa terhitung tanggal suspensi, berakhir dan penyelesaian transaksi akan dijamin oleh KPEI
  •  Delisting akan efektif pada hari bursa berikutnya setelah masa perdagangan.
  • Bursa akan mengumumkan tanggal efektif delisting di bursa paling lambat lima hari bursa sebelum akhir periode perdagangan.
3. Jika saham emiten dihapuskan pencatatannya dari bursa, semua efek dari perusahaan tersebut juga
    akan dihapuskan dari bursa.
4. Emiten yang sahamnya dihapus pencatatannya dari bursa boleh mengajukan keberatan kepada
    Ketua Bapepam dan keputusan Bapepam adalah final.
 
Prosedur pelaksanaan relisting sebagai berikut
  1. Emiten yang dihapuskan pencatatan sahamnya dari bursa dapat mengajukan permohonan untuk mencatatkan kembali sahamnya di bursa paling cepat enam bulan sejak tanggal delisting.
  2. Emiten yang menghapuskan pencatatan sahamnya dari bursa atas permohonan sendiri boleh mengajukan permohonan pencatatan kembali paling cepat sepuluh tahun sejak tanggal delisting. Jika pemegang saham mayoritas atau manajemen telah berubah, emiten tersebut boleh mengajukan permohonan pencatatan kembali paling cepat lima tahun sejak tanggal delisting
  3. Permohonan pencatatan saham kembali akan diperdagangkan dengan cara yang sama dengan pencatatan saham baru.

Secara lebih rinci, berikut adalah daftar nama rekening dan nomor kode rekening buku besar

Nomor Kode Rekening
Buku besar adalah merupakan kumpulan rekening harta, kewajiban dan modal, karena jumlah rekening sangat banyak maka perlu pemberian nomor rekening riil dan rekening nominal.
Rekening riil meliputi :
" Rekening harta dengan nomor rekening awal 1
" Rekening kewajiban, dengan nomor rekening awal 2
" Rekening modal, dengan nomor rekening awal 3
Rekening nominal meliputi :
" Rekening pendapatan, dengan nomor rekening awal 4
" Rekening beban, dengan nomor rekening awal 5

Secara lebih rinci, berikut adalah daftar nama rekening dan nomor kode rekening

1) HARTA
  1.  Harta Lancar
  2. Kas (Cash)
  3. Bank (Bank)
  4. Wesel tagih (Notes Receivable)
  5.  Piutang usaha (Accounts Receivable
  6.  Persediaan barang dagang (Merchandise Inventory
  7.  Sewa dibayar di muka (Prepaid ren
  8.  Asuransi dibayar di muka (Prepaid Insurance)
  9.  Perlengkapan kantor (Office Suplais)
  10.  Perlengkapan toko (Store Suplais) Dan lain-lain
Harta Teta
  1.   Tanah (Land)
  2. Gedung (Building)
  3. Akum. penyusutan gedung (Accumulated Depreciation Building)
  4. Peralatan toko (Store Equipment)
  5. Akum. penyusutan peralatan toko (Accumulated Depreciation Store Equipment
  6.  Peralatan kantor (Office Equipment)
  7. Akum. penyusutan peralatan kantor (Accumulated Depreciation OfficEquipment)
  8. Kendaraan (Vehicle
  9.  Akum. penyusutan kendaraan (Accumulated Depreciation Vehicles) Dan lain-lain


2. UTANG
  1. Utang Lanca
  2. Wesel bayar (Notes Payable
  3. Hutang bank (Bank Loan)
  4. Hutang usaha (Account Payable)
  5. Hutang gaji (Salaries Payable)
  6. Hutang pajak (Tax Payable
  7.  Hutang bunga (Interest Payable) Dan lain-lai
  8.  Utang Jangka Panjang/Kewajiban Jangka Panjang
  9.  Utang obligasi (Bond Payable)
  10. Utang hipotek (Mortage Payable

3. MODA
  1.  Modal sendiri (Capital)
  2. Modal pinjaman (Foreign Capital)
4. PENDAPATAN
  1. Pendapatan Usaha
  2.  Penjualan (Sales)
  3. Retur penjualan dan pengurangan harga (Sales Return & Allowances
  4.  Potongan penjualan (Interest Discount)
  5.  Pendapatan lain-lain (Other income
  6.  Pendapatan bunga (Interest Income
  7.  Pendapatan komisi (Komisi Income
  8.  Pendapatan sewa (Rent Income
  9.  Laba atas penjualan harta tetap (Gain an sale of fixed assets) Dan lain-lain

5. BIAYA-BIAYA
  1. Biaya-biaya yang Menyangkut Harga Pokok Penjuala
  2. Pembelian (Purchase
  3.  Beban angkut pembelian (Expenses Purcha
  4.  Retur pembelian dan pengurangan harga (Purchase return & allowances)
  5.  Potongan pembelian (Purchase Discount
  6.  Biaya-biaya Usaha
  7.  Biaya gaji (Salaries Expenses)
  8.  Biaya transportasi (Delivery Expenses)
  9.  Biaya air, listrik dan telepon (Utility Expenses)
  10. Biaya perlengkapan toko (Store Suplies Expenses)
  11. Beban perlengkapan kantor (Office Suplies Expenses)
  12. Beban penyusutan gedung (Depreciaton Expenses Build)
  13. Beban pajak penghasilan (Income Tax) Dan lain-la
  14. . Beban Lain-la
  15.  Beban bunga (Interest Expenses
  16.  Beban serba-serbi (Miscellencous Expenses) Dan lain-lain

Ilustrasi pencatatan transaksi ke dalam jurnal khusus

Ilustrasi pencatatan transaksi ke dalam jurnal khusus.
Sebagai ilustrasi perhatikan contoh di bawah ini :
UD "Sekar Wangi" didirikan pada tahun 2004 oleh Tuan Rico. Adapun transaksitransaksi
yang dilakukan selama bulan April 2004 adalah sebagai berikut :
1) Tanggal 01 Perusahaan membeli peralatan dari Toko “Lima” senilai Rp 2.500.000,- dan disetor kas Rp 3.000.000,- sebagai modal awal

2) Tanggal 04 Dibeli barang dagangan secara kredit dari UD “Maju” seharga Rp 2.000.000,- dengan bukti faktur No. R-320.

3) Tanggal 11 Dibayar rekening listrik dan air sebesar Rp 350.000,-.

4) Tanggal 14 Dijual barang dagangan secara kredit pada UD “Sasami” seharga Rp 2.600.000,- dengan syarat 2/10, n/30. Bukti transaksi berupa faktur No. R-310.



5) Tanggal 17 Dibayar gaji karyawan untuk tengah bulan pertama sebesar Rp 1.000.000

6) Tanggal 20 Dijual barang pada Toko “Makmur” senilai Rp 1.800.000,- dengan bukti Nota No. NK-102


7) Tanggal 23 Diterima pembayaran dari UD “Sasami” atas transaksi tanggal 14 April

8) Tanggal 24 Dijual barang dagangan secara kredit pada CV “Kondang” seharga Rp 1.200.000,- dengan bukti faktur No. R-330.

9) Tanggal 25 Dijual barang dagangan secara kredit pada UD “Sasami”, senilai Rp 850.000,-. Bukti yang digunakan berupa faktur No. R-340

10) Tanggal 26 Dibeli barang dagangan dari CV “Andika” senilai Rp 1.000.000,- dengan syarat 2/10, n/30. Bukti berupa faktur No.R-350.

11) Tanggal 28 Diterima pengembalian sebagian barang dari CV “Kondang” yang dijual pada tanggal 24 April, sebesar Rp 80.000,-

Jawab : Perusahaan Dagang UD "Sekar Wangi"
Jurnal Penjualan (Sales Journal)
Periode April 2004
 

Perusahaan Dagang UD "Sekar Wangi"
Jurnal Penerimaan Kas (Cash Receipt Journal)
Periode April 2004
Perusahaan Dagang UD "Sekar Wangi"
Jurnal Pembelian (Purchases Journal)
Periode April 2004
Perusahaan Dagang UD "Sekar Wangi"
Jurnal Pengeluaran Kas (Cash Payment Journal)
Periode April 2004


Perusahaan Dagang UD "Sekar Wangi"
Jurnal Memorial (Memorial Journal)
Periode April 2004





Bentuk-bentuk jurnal penerimaan kas,pengerluaran kas,jurnal penjualam,jurnal pembelian dan jurnal umum

1) Jurnal Penerimaan Kas
Jurnal penerimaan kas digunakan untuk mencatat seluruh penerimaan kas, baik dari debitur (pelanggan kredit), dari pendapatan bunga, pendapatan sewa, dari penjualan tunai dan lain-lain. Adapun format atau bentuk jurnal (dapat disesuaikan tergantung kegiatan perusahaan) adalah sebagai berikut :
Perusahaan ………………
Jurnal Penerimaan Kas
Periode : ……………
2) Jurnal Pengeluaran Kas
Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat pengeluaran kas, baik untuk membayar utang, membayar gaji, membayar pembelian barang dagangan secara tunai dan lain-lain. Adapun format atau bentuk jurnal (dapat disesuaikan dengan kegiatan perusahaan) adalah sebagai berikut :
Perusahaan ………………
Jurnal Pengeluaran Kas
Periode : ……………
3) Jurnal Penjualan
Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan  dengan syarat kredit, yaitu penjualan yang menimbulkan hak tagihan kepadapelanggan. Adapun format atau bentuk jurnal (dapat disesuaikan dengan kegiatan perusahaan) sebagai berikut :
Perusahaan ………………
Jurnal Penjualan
Periode : ……………
4) Jurnal Pembelian
Jurnal pembelian digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan dengan syarat kredit, yaitu pembelian yang menimbulkan kewajiban atau utang kepada pemasok. Adapun format atau bentuk jurnal (dapat disesuaikan dengan kegiatan perusahaan) sebagai berikut :
Perusahaan ………………
Jurnal Pembelian
Periode : ……………
5) Jurnal Umum


Jurnal umum digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang tidak dapat dicatat ke dalam empat buku di atas, misalnya retur penjualan kredit, retur pembelian kredit, penyesuaian akhir periode, penyesuaian kembali, koreksi dan jurnal penutup.
Adapun format/bentuk jurnalnya sebagai berikut :
Perusahaan ………………
Jurnal Umum
Periode : ……………

Diberdayakan oleh Blogger.