Tampilkan postingan dengan label akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akuntansi. Tampilkan semua postingan

Pengertian dan kegunaan neraca saldo setelah penutupan

Pengertian dan Kegunaan Neraca Saldo setelah Penutupan
Setelah membuat jurnal penutup, tahap selanjutnya dalam siklus akuntansi adalah menyusun Neraca Saldo Setelah Penutupan (post closing trial balance). Tujuan dibuat neraca saldo setelah penutupan adalah memastikan bahwa buku besar telah seimbang sebelum memulai pencatatan data akuntansi pada periode berikutnya.

Post closing trial balance dibuat untuk memastikan bahwa akun di buku besar telah seimbang

Bentuk-bentuk Neraca Saldo setelah Penutupan.
Neraca saldo setelah penutup dapat dibuat dari saldo-saldo buku besar setelah jurnal penutup diposting ke buku besar masing-masing. Bisa juga diambil dari saldo-saldo yang ada di neraca di neraca lajur, atau dari laporan keuangan neraca. Neraca saldo setelah penutupan adalah akun-akun riil saja. Sedang akun sementara (akun Nominal) sudah ditutup sehingga bersaldo nol. Bentuk neraca saldo setelah penutupan sebagai berikut:
1. Nama perusahaan
2. Judul yaitu Neraca Saldo Setelah Penutupan
3. Tanggal pembuatan
Setelah judul dibuat maka membuat kolom-kolom sebanyak 4 kolom yang berisi:
1. Kolom 1 : Kode Akun
2. Kolom 2 : Nama Akun
3. Kolom 3 : Debit
4. Kolom 4: Kredit
Menyiapkan Neraca Saldo setelah Penutupan
Setelah semua jurnal penutup telah dibuat dan diposting ke buku besar, neraca saldo setelah penutupan bisa disiapkan. Neraca saldo setelah penutupan merupakan suatu daftar akun permanen beserta saldonya setelah dilakukan tutup buku. Tujuan dari neraca saldo ini adalah untuk memperlihatkan keseimbangan saldo-saldo dari akun permanen yang akan dibawa ke periode akuntansi berikutnya. Karena semua akun temporer (akun nominal) memiliki saldo nol, maka neraca saldo setelah penutupan akan berisi saldo akun permanen, yaitu akun yang ada di neraca.
Neraca saldo setelah penutupan akan memberikan bukti bahwa proses penjurnalan dan posting ke buku besar atas semua akun yang harus ditutup telah selesai. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa persamaan dasar akuntansi telah seimbang pada akhir periode akuntansi. Namun demikian, dalam kasus tertentu, bukan berarti bahwa semua transaksi yang ada di perusahaan telah dicatat atau telah diposting ke dalam buku besar secara benar. Sebagai contoh walaupun 
ada satu transaksi yang tidak dicatat dan diposting ke dalam buku besar neraca saldo setelah penutupan akan tetap terlihat seimbang, begitu pula bila ada sebuah transaksi yang dicatat dan diposting dua kali, neraca saldo setelah penutupan juga terlihat seimbang. Marilah kita mengingat kembali bahwa dalam satu periode akuntansi, siklus akuntansi yang dilalui meliputi:
1. Mencatat transaksi ke dalam buku jurnal.
2. Memindahkan transaksi-transaksi dari jurnal ke buku besar (posting).
3. Menyusun neraca saldo.
4. Membuat ayat-ayat penyesuaian.
5. Memposting ayat-ayat penyesuaian ke buku besar.
6. Menyusun neraca saldo setelah penyesuaian.
7. Membuat laporan keuangan.
8. Membuat jurnal penutup.
9. Memposting jurnal penutup ke buku besar masing-masing.
10. Membuat neraca saldo setelah penutupan.
11. Membuat jurnal pembalik, suatu pilihan (option) di awal periode berikutnya.

Bagaimana membalik/ menyesuaikan kembali piutang?

Membalik/ Menyesuaikan Kembali Piutang
Contoh : Piutang Bunga
Pada kasus ini akan diilustrasikan kondisi perusahaan yang menginvestasikan uangnya ke obligasi. Sebagai contoh perusahaan Purnama berinvestasi dalam bentuk obligasi. Bunga obligasi yang diterima sebesar Rp. 3.000.000,- setiap 6 bulan sekali. Perusahaan Purnama berinvestari mulai 1 Oktober 2006. Laporan keuangan perusahaan dibuat 31 Desember. Mulai tanggal 1 Oktober sampai dengan 31 Desember 2006 (selama 3 bulan) ada bunga yang menjadi hak perusahaan yaitu sebesar Rp. 1.500.000,-. Karena bunga sebesar Rp. 1.500.000,- pada tanggal 31 Desember 2006 belum diterima tunai, maka akan menjadi piutang bunga. Jurnal penyesuaian yang harus dibuat untuk peristiwa ini adalah
Apabila jurnal penyesuaian di atas tidak disesuaikan kembali/ dibuat jurnal pembalik, maka jurnal yang dibuat untuk penerimaan bunga 1 April 2007 adalah sebagai berikut
Dalam jurnal di atas terdapat dua pengkreditan, yaitu menghapus piutang bunga dan mencatat pendapatan bunga tiga bulan di tahun 2007. Walaupun tidak rumit maka dipandang perlu untuk disederhanakan.  Caranya yaitu membuat jurnal pembalik (membalik jurnal penyesuaian) diawal periode sebagai berikut

Dengan dibuatnya jurnal pembalik maka akun piutang bunga akan bersaldo nol, sedang akun pendapatan bunga akan bersaldo debit sebesar Rp. 1.500.000,-. Pada saat terjadi pembayaran bunga yaitu tanggal 1 April 2007, perusahaan membuat jurnal sebagai berikut:
Apabila jurnal tanggal 1 April 2007 diposting ke buku besar akan nampak bahwa akun pendapatan akan bersaldo Rp. 1.500.000,-. Jumlah ini sesuai dengan pendapatan bunga yang diterima selama 3 bulan, yaitu tanggal 1 Januari sampai dengan 1 April 2007 di tahun 2007. Dari kedua contoh tersebut di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa jurnal penyesuaian kembali/ jurnal pembalik bertujuan untuk menyederhanakan transaksi yang terjadi berulang-ulang. Namun tidak semua transaksi yang terjadi berulang-ulang perlu disesuaikan  kembali/ dibalik. Contoh transaksi yang berualang-ulang dan tidak perludibuatkan jurnal pembalik adalah adalah penyusutan aktiva tetap.

Bentuk-bentuk neraca saldo setelah penutupan.

Bentuk-bentuk Neraca Saldo setelah Penutupan.
Neraca saldo setelah penutup dapat dibuat dari saldo-saldo buku besar setelah jurnal penutup diposting ke buku besar masing-masing. Bisa juga diambil dari saldo-saldo yang ada di neraca di neraca lajur, atau dari laporan keuangan neraca. Neraca saldo setelah penutupan adalah akun-akun riil saja. Sedang akun sementara (akun Nominal) sudah ditutup sehingga bersaldo nol. Bentuk neraca saldo setelah penutupan sebagai berikut:
1. Nama perusahaan
2. Judul yaitu Neraca Saldo Setelah Penutupan
3. Tanggal pembuatan

Setelah judul dibuat maka membuat kolom-kolom sebanyak 4 kolom yang berisi:
1. Kolom 1 : Kode Akun
2. Kolom 2 : Nama Akun
3. Kolom 3 : Debit
4. Kolom 4: Kredit

Menyiapkan Neraca Saldo setelah Penutupan
Setelah semua jurnal penutup telah dibuat dan diposting ke buku besar, neraca saldo setelah penutupan bisa disiapkan. Neraca saldo setelah penutupan merupakan suatu daftar akun permanen beserta saldonya setelah dilakukan tutup buku. Tujuan dari neraca saldo ini adalah untuk memperlihatkan keseimbangan saldo-saldo dari akunpermanen yang akan dibawa ke periode akuntansi berikutnya. Karena semua akun temporer (akun nominal) memiliki saldo nol, maka neraca saldo setelah penutupan akan berisi saldo akun permanen, yaitu akunyang ada di neraca.

Neraca saldo setelah penutupan akan memberikan bukti bahwa proses penjurnalan dan posting ke buku besar atas semua akun yang harus ditutup telah selesai. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa persamaan dasar akuntansi telah seimbang pada akhir periode akuntansi. Namun demikian, dalam kasus tertentu, bukan berarti bahwa semua transaksi yang ada di perusahaan telah dicatat atau telah diposting ke dalam buku besar secara benar.

 Sebagai contoh walaupu ada satu transaksi yang tidak dicatat dan diposting ke dalam buku besar neraca saldo setelah penutupan akan tetap terlihat seimbang, begitu pula bila ada sebuah transaksi yang dicatat dan diposting dua kali, neraca saldo setelah penutupan juga terlihat seimbang. Marilah kita mengingat kembali bahwa dalam satu periode akuntansi, siklus akuntansi yang dilalui meliputi:
1. Mencatat transaksi ke dalam buku jurnal.
2. Memindahkan transaksi-transaksi dari jurnal ke buku besar (posting).
3. Menyusun neraca saldo.
4. Membuat ayat-ayat penyesuaian.
5. Memposting ayat-ayat penyesuaian ke buku besar.
6. Menyusun neraca saldo setelah penyesuaian.
7. Membuat laporan keuangan.
8. Membuat jurnal penutup.
9. Memposting jurnal penutup ke buku besar masing-masing.
10. Membuat neraca saldo setelah penutupan.
11. Membuat jurnal pembalik, suatu pilihan (option) di awal periodberikutnya.

Jurnal penutup untuk perusahaan perseroan

Jurnal Penutup untuk Perusahaan Perseroan
Pada perusahaan perseroan penutupan akun pendapatan dan akun beban akan sama seperti perusahaan perseorangan dan perusahaan persekutuan. Perbedaannya terletak pada:
1. Penutupan akun laba rugi karena struktur modal pada perusahaan  perseroan berupa saham.
2. Para pemegang saham tidak diperkenankan mengambil prive. Bagian laba yang diambil oleh
    pemegang saham disebut dividen


Berikut ini gambaran untuk membuat jurnal penutup pada perusahaan perseroan: Selama tahun 2006 PT Widya Cendekia telah memperoleh laba sebesar Rp. 5.000.000.000,-. Dari laba yang diperoleh tersebut, jumlah yang dibagikan kepada pemegang saham adalah Rp. 2.000.000.000,-. Jurnal yang dibuat sebagai berikut:

Akun saldo laba merupakan akun riil dan dicantumkan dalam neraca di bawah modal saham. Dari pembahasan di atas, kita dapat membuat tahapan siklus akuntansi yang diperlukan pada suatu perusahaan, sebagaimana dijelaskan pada gambar. Dari tahapan tersebut, kita bisa melihat bahwa suatu siklus akuntansi dimulai dengan menganalisis transaksi bisnis dan diakhiri dengan penyusunan neraca saldo setelah tutup buku. Tahap pertama sampai ketiga terjadi setiap hari selama periode akuntansi tahap keempat sampai dengan ketujuh disusun berdasarkan periode tertentu seperti bulanan atau tahunan.

Tahapan kedelapan dan kesembilan, yaitu pembuatan jurnal penutup, neraca saldo setelah tutup buku dan biasanya hanya disiapkan pada akhir periode akuntansi. Pada tahapan tersebut masih terdapat dua tahapan pilihan dalam siklus akuntansi, yaitu sebuah neraca lajur bisa digunakan dalam menyusun jurnal penyesuaian dan laporan keuangan.

Jurnal penutup untuk perusahaan persekutuan

Jurnal Penutup untuk Perusahaan Persekutuan
Jurnal penutup untuk perusahaan persekutuan hampir sama
dengan jurnal penutup pada perusahaan perseorangan, kecuali:
1. Pemindahan saldo akun laba rugi ke akun modal. Karena pemilik perusahaan perusahaan persekutuan lebih dari satu orang, maka terdapat lebih dari satu akun modal pemiliki perusahaan, yakni sejumlah pemilik perusahan persekutuan tersebut. Oleh karena itu, pembagian laba atau rugi perusahaan harus dibagikan kepada para sekutu dengan cara pembagian yang diatur dalam anggaran dasarpersahan
  1. Perusahaan persekutuan memiliki lebih dari satu akun modal.
  2.  Para sekutu diperbolehkan melakukan penarikan (prive) dalam batas tertentu, sehingga akun prive juga lebih dari satu.
  3. Hasil pembagian laba atau rugi dipindahkan dari akun laba rugi ke akun modal melalui akun prive masing-masing
Untuk lebih memahami tentang penutupan pada perusahan persekutuan berikut ini diberi contoh proses penutupan yang terjadi di CV Airlangga. CV Airlangga dengan anggota sekutu Purnama, Widya dan Angga, selama periode 2006 memperoleh laba bersih Rp. 600.000.000,-. Dalam perjanjian, laba bersih akan dibagi rata antara para sekutu. Saldo akun prive dalam buku besar sebelum penutupan terlihat sebagai berikut: Prive, Purnama senilai Rp. 55.000.000,-, Prive,Widya Rp. 40.000.000,- dan Prive, Angga sebesar Rp. 25.000.000,-.
Prosedur penutupan dan beban sama seperti perusahaan perseorangan. Setelah dipindahkan ke akun ikhtisar laba rugi maka saldo ikhtisar laba rugi sebesar Rp. 600.000.000,- dan saldo ini akan dibagi ke para sekutu. Laba/rugi sebesar Rp. 600.000.000,- dipindahkan ke akun prive masingmasing sekutu dengan jurnal penutup sebagai berikut

Setelah jurnal penutup di atas diposting maka saldo akun prive masingmasing sekutu sebagai berikut
  1.  Prive, Purnama: Rp. 200.000.000,- - Rp. 55.000.000,- = Rp. 145.000.000,-
  2. Prive, Widya : Rp. 200.000.000,- - Rp. 40.000.000,- = Rp. 160.000.000,-
  3. Prive, Angga : Rp. 200.000.000,- - Rp. 25.000.000,- = Rp. 175.000.000,-
Penutupan tersebut akan nampak pada buku besar sebagai berikut



Saldo akun prive pada perusahaan persekutuan kadang-kadang tidak dipindahkan ke akun modal para sekutu melainkan tetap dibiarkan dalam akun prive sebagai akun riil dan dicantumkan dalam neraca pada bagian modal. Pada Neraca per 31 Desember 2006, pada sisi ekuitas, penyajian akun modal masing-masing sekutu yang besarnya Rp. 300.000.000,- dengan akun privenya akan nampak sebagai berikut::

Jelaskan laporan perubahan ekuitas?

 Laporan Perubahan Ekuitas
Yaitu laporan keuangan yang menunjukan perubahan ekuitas selama satu periode. Laporan ekuitas terdiri dari saldo awal modal pada neraca saldo setelah disesuaikan di tambah laba bersih selama satu periode dikurangi dengan pengambilan prive. Laporan perubahan ekuitas dari neraca lajur diperoleh dari data kolom 9 dan 1 Komponen laporan perubahan ekuitas adalah:
a. Modal awal
Diperoleh dari investasi awal ataupun penambahan investasi.
b. Laba atau rugi
Laba perusahaan akan menambah modal perusahaan, sedangkan rugi akan mengurangi modal perusahaan.

c. Penarikan (prive)
Apabila sebagian laba diambil oleh pemilik untuk kepentingannya sendiri di luar kepentingan perusahaan, maka kejadian ini akan mengurangi modal pemilik. Jika bentuk perusahaan adalah perseorangan atau firma maka penarikan disebut Prive dan jika berbentuk perseroan (PT) penarikan disebut Dividen. Apabila laba lebih besar dari pada penarikan maka akan ada kenaikan modal, sebaliknya jika laba lebih kecil dari penarikan maka akan terjadi penurunan modal

d. Modal akhir
Modal akhir adalah saldo modal awal ditambah laba rugi dikurangi penarikan.

3. Neraca
Yaitu laporan keuangan yang menunjukan posisi aset, kewajiban dan ekuitas pada periode tertentu. Neraca merupakan perluasan dari persamaan dasar akuntansi. Data untuk menyusun laporan neraca diambil dari neraca lajur kolom ke 11 dan ke 12. Isi dari neraca secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Kelompok Aset, yang terdiri dari
  •  Aset Lancar
  •  Investasi jangka panjang.
  •  Aset tetap
  •  Aset yang tidak berwujud
  •  Aset lain-lain
b. Kewajiba
  •  Kewajiban lanca
  •  Kewajiban jangka panjan
  •  Kewajiban lain-lain
c. Ekuitas
  •  Modal saham
  • Agio/Disagio saham
  • Cadangan-cadangan
  • Saldo laba

Bagimana langkah-langkah membuat neraca lajur ?

Menyiapkan Neraca Lajur
Langkah-langkah membuat Neraca Lajur :
1. Nama perusahaan, Neraca Lajur dan Periode penyusunan ditulis di tengah atas.
2. Mengisi kolom keterangan untuk nama akun-akun.
3. Menyiapkan neraca saldo pada kertas kerja dengan memasukkan angka-angka dari setiap saldo
    akun yang ada di buku besar dan dijumlahkan dari akun pada neraca saldo ke kolom 1 sebelah debit 
   dan ke 2 sebelah kredit.

4. Menyiapkan penyesuaian dalam kolom penyesuaian dengan memasukkan angka-angka dari
    jurnal penyesuaian pada kolom penyesuaian. Kolom ke 3 sebelah debit, ke 4 sebelah kredit dan
    setiap kolom dijumlahkan. Kita perlu mengingat bahwa penyesuaian tidaklah dijurnal hingga kertas
    kerja selesai diselesaikan dan laporan keuangan telah disiapkan.

5. Memasukkan saldo-saldo yang telah disesuaikan dalam kolom neraca saldo setelah penyesuaian
    dengan cara menjumlahkan atau mengurangkan kolom neraca saldo dan kolom penyesuaian
    (penjumlahan atau pengurangan dari kolom 1,2,3 dan 4) dari masigmasing akun dan hasilnya
    dimasukkan ke kolom 5 dan ke 6 (neracasaldo setelah disesuaikan) kolom ke 5 harus dijumlah
     begitu juga  kolom ke 6.
6. Berdasarkan angka dari neraca saldo setelah disesuaikan (kolom 5 dan 6) dipilih akun pendapatan dan beban dan dimasukkan ke kolom laporan laba rugi yaitu kolom ke 7 debit dan kolom 8 kredit. Kolom ke 7 dijumlah dan juga kolom 8, jika kolom 8 lebih besar dari pada kolom 7 maka laba, angka selisih dimasukkan pada kolom 7 dan sebaliknya. 7. Masih berdasarkan angka dari kolom neraca saldo setelah disesuaikan, maka dipilih akun modal, laba (kolom ke 7) atau rugi (kolom 8) dan prive dimasukkan ke kolom perubahan modal yaitu kolom 9 debit dan kolom 10 kredit. Pada perusahaan yang mengalami laba, maka angka laba dari kolom 7 dimasukkan ke kolom 10, jika rugidari angka kolom 8 dimasukkan ke kolom 9. Kolom 8 dijumlahkan dan juga kolom 9, selisih yang terjadi merupakan modal akhir yang dimasukkan ke kolom 9



Berdasarkan angka dari neraca saldo setelah disesuaikan, maka akun tersisa dipindahkan ke kolom neraca yaitu kolom 11 sebelah debit dan kolom 12 di kredit. Kolom ini berisi aset, utang dan modal akhir (angka dari kolom 9) dimasukkan ke kolom 12. kolom 11 dijumlahkan dan juga kolom 12. Berikut adalah neraca lajur Konsultan Cipta Jasa Karya untuk periode yang berakhir 31 Agustus 2006 sebagaimana dalam ilustrasi 8.2





Jelaskan kegunaan neraca lajur dan isi neraca lajur?

Pengertian dan Kegunaan Neraca Lajur
Neraca lajur disebut juga kertas kerja (worksheet) adalah kertas kerja yang berisi semua data akuntansi yang akan digunakan untuk membuat laporan keuangan. Neraca lajur bukan merupakan laporan keungan, tetapi merupakan alat bantu untuk memudahkan dalam membuat laporan keuangan. Karena bukan laporan keuangan, neraca lajur merupakan suatu pilihan (option), artinya perusahaan boleh membuat neraca lajur, dan boleh tidak. Apabila membuat, tidak perlu diberikan kepada pihak luar.

Untuk perusahaan dengan skala kecil dan akun buku besar tidak begitu banyak maka dalam membuat laporan keuangan bisa dilakukan secara langsung dari neraca saldo yang telah disesuaikan, akan tetapi untuk perusahaan yang mempunyai akun buku besar dalam jumlah yang banyak untuk tujuan ketelitian bisa menggunakan alat bantu yaitu neraca lajur.

Neraca lajur berguna untuk memahami arus data informasi dari neraca saldo sampai dengan laporan keuangan termasuk didalamnya adalah jurnal penyesuaian. Disamping itu neraca lajur juga bermanfaat dalam hal kemudahan menemukan kesalahan dalam penyusunan jurnal penyesuaian.


Bentuk dan Isi Neraca Lajur
Bentuk neraca lajur ada 2 (dua) yaitu neraca lajur 10 kolom dan neraca lajur 12 kolom. Neraca lajur 12 kolom merupakan neraca lajur yang lengkap. Disebut dua belas kolom karena neraca lajur ini memiliki 12 kolom debit dan kredit. Yang sebenarnya di neraca ini terdapat satu kolom lagi berisi nama akun. Ke 12 kolom yang dimaksud meliputi
  1. Kolom 1 dan ke-2 merupakan kolom neraca saldo yang berisi saldosaldo akun yang belum disesuaikan.
  2.  Kolom ke 3 dan ke 4 merupakan kolom yang berisi data penyesuaian. Kolom debit dan kredit dalam data penyesuaian bermanfaat untuk mengkaji ulang neraca lajur tersebut sekaligus untuk mengidentifikasi ayat jurnal penyesuaian yang perlu dicatan ddalam jurnal\
  3. Kolom ke 5 dan ke 6 merupakan kolom yang neraca saldo akun setelah disesuaikan. Kolom ini berasal dari penjumlahan (pengurangan) angka-angka di neraca saldo dengan angka-angka  penyesuaian.
  4. Kolom ke 7 dan ke 8 merupakan kolom yang berisi laporan laba rugi. Kolom laba rugi berisi jumlah-jumlah pendapatan dan beban yang dipindahkan dari neraca saldo setelah disesuaikan.
  5. Kolom 9 dan ke 10 merupakan kolom yang berisi laporan perubahan equitas. Dalam kolom ini saldo akun modal dan penarikan prive dimasukkan untuk menghitung perubahan ekuitas yang terjadi pada periode tersebut
  6. Kolom ke 11 dan ke 12 merupakan kolom yang berisi neraca. Kolom ini berisi pindahan jumlah aset dan kewajiban yang berasal dari neraca saldo setelah disesuaikan termasuk pindahan ekuitas dari kolom laporan perubahan ekuitas. Neraca lajur juga harus dilengkapi informasi mengenai nama perusahaan, neraca lajur dan periode pembuatan neraca lajur, yang diletakkan di bagian atas tengah.

Sebutkan Bentuk-bentuk Buku Jurnal (Harian) ?

Bentuk-bentuk Buku Jurnal (Harian) Terdapat beberapa macam bentuk jurnal, diantaranya meliputi jurnal umum, jurnal khusus, jurnal penyesuaian (adjustment journal), jurnal penutup dan jurnal pembalik. Setiap bentuk jurnal ini memiliki fungsinya masing-masing.

Bentuk jurnal meliputi jurnal umum, jurnal khusus, jurnal penyesuaian (adjustment journal), jurnal penutup dan jurnal pembalik


Jurnal umum merupakan jurnal standar yang berbentuk secara umum. Jurnal ini biasanya juga disebut sebagai jurnal memorial. Umumnya buku jurnal atau buku harian menggunakan bentuk jurnal umum dua kolom. Kolom-kolom dalam jurnal ini meliputi:

Jurnal umum adalah jurnal standar untuk transaksi secara umum

1. Kolom Tanggal (A).
Kolom ini digunakan untuk mencatat tanggal kejadian transaksi yang  dicatat berdasar urutan kronologi kejadiaannya.
2. Kolom Keterangan (B).
Kolom ini digunakan untuk mencatat ayat-ayat jurnal transaksi sesuai dengan urutan debet kredit dalam setiap transaksi. Ayat jurnal debit harus dicatat dahulu kemudian baru diikuti ayat jurnal kredit. Cara penulisan ayat jurnal kredit dilakukan dengan agak masuk ke dalam. Hal ini dilakukan untuk setiap transaksi.
3. Kolom Referensi (C).
Kolom ini digunakan untuk menandai ayat-ayat jurnal yang sudah diposting ke buku besar.
4. Kolom Debit (D).
Kolom ini digunakan untuk mencatat jumlah yang harus didebit dari suatu transaksi.
5. Kolom Kredit (E).
Kolom ini digunakan untuk mencatat jumlah yang harus di kredit dari suatu transaksi 

Selain kolom-kolom tersebut dalam setiap halaman buku jurnal harus diberi halaman jurnal (G) di pojok kanan atas serta judul jurnal (F) yang dibuat di tengah atas. Ilustrasi 4.2 menjelaskan jurnal umum dua kolom dengan ayat jurnal yang sudah dicatat (dijurnal).
Jurnal khusus adalah jurnal yang dibuat khusus untuk transaksi yang sering terjadi. Jurnal khusus meliputi jurnal khusus penerimaan kas, jurnal khusus pengeluaran kas, jurnal khusus penjualan, dan jurnal khusus pembelian. Contoh jurnal khusus pengeluaran kas dan penerimaan kas nampak dalam ilustrasi 4.3 dan 4.4 berikut:

Jurnal khusus adalah jurnal yang dibuat khusus untuk transaksi yang sering terjadi


Sebagaimana jurnal umum, jurnal khusus ini juga terdiri dari beberapa kolom. Penjelasan untuk masing-masing kolom diberikan sebagai berikut:
1. Kolom tanggal berisi tanggal terjadinya transaksi yang dicatat secara kronologis.
2. Kolom keterangan berisi penjelasan bukti transaksi pengeluaran maupun penerimaan kas.
3. Kolom Referensi digunakan untuk menandai ayat-ayat jurnal yang sudah diposting ke buku besar
4. Kolom Debit di jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat akun yang terpengaruh oleh transaksi pengeluaran kas yang dilakukan beserta junlahnya, sementara itu kolom debit di jurnal penerimaan kas berisi jumlah kas yang masuk dalam transaksi

Jelaskan pengertian jurnal dan fungsinya?

Pengertian Jurnal dan Fungsinya
Jurnal merupakan catatan akuntansi pertama setelah bukti transaksi. Fungsi jurnal adalah menyediakan catatan yang lengkap dan permanen dari semua transaksi perusahaan yang disusun dalam urutan kronologis kejadiannya sebagai referensi di masa mendatang. Tujuan mencatat transaksi ke dalam jurnal adalah untuk menunjukkan pengaruh setiap transaksi ke dalam akun perusahaan.

Bentuk jurnal meliputi jurnal umum, jurnal khusus, jurnal penyesuaian (adjustment journal), jurnal penutup dan jurnal pembalik.

Dalam siklus akuntansi perusahaan, jurnal merupakan kegiatan pencatatan dasar sebelum posting akun di buku besar. Dengan demikian, bila terjadi kesalahan dala membuat jurnal, mengakibatkan akun di bukubesar juga salah, sehingga laporan keuanganpun pada akhirnya juga salah.


Ayat-ayat jurnal merupakan pendebitan dan pengkreditan akun yang terlibat dalam suatu transaksi


Jurnal juga merupakan permulaan pencatatan secara kronologis berupa pendebitan dan pengkreditan dari transaksi keuangan yang telah terjadi serta penjelasannya. Pendebitan dan pengkreditan transaksi dilakukan menurut kaidah pencatatan debit dan pencatatan kredit, dimana pencatatan debit harus dilakukan lebih dulu baru kemudian pencatatan kredit. Pencatatan debit dan pencatatan kredit ini merupakan kegiatan dalam jurnal yang biasanya juga disebut sebagai pencatatan ayat-ayat jurnal

Ayat-ayat jurnal merupakan pendebitan dan pengkreditan akun yang terlibat dalam suatu transaksi.

Bagaimana langkah langkah dalam menganalisis transaksi bisnis ?

Menganalisis Pengaruh Transaksi Bisnis terhadap Akun
Semua transaksi yang terjadi di perusahaan akan dicatat dalam buku harian. Untuk mencatat transaksi ke dalam buku harian ini diperlukan analisis setiap transaksi yang terjadi secara cermat. Analisis transaksi ini merupakan langkah yang paling kritis dalam siklus akuntansi karena langkah ini akan mempengaruhi langkah berikutnya. Analisis diperlukan untuk memahami pengaruh transaksi terhadap akun-akun yang ada dalam persamaan dasar akuntansi.

Setiap transaksi bisnis yang terjadi disuatu perusahaan, mempengaruhi minimal dua akun. Berapapun jumlah akun yang terlibat dalam sebuah transaksi, jumlah debit dan kredit akan selalu sama dalam setiap transaksi. Hal ini memenuhi kaidah persamaan dasar akuntansi dimana Aset = Kewajiban + Ekuitas. Karena persamaan ganda ini dan pengaruh transaksi terhadap minimal  dua akun ini, sistem akuntansi yang demikian disebut dengan sistemakuntansi berpasangan (double entry system).

Sistem akuntansi berpasangan (double entry sistem) merupakan alat yang dapat digunakan untuk menganalisis transaksi. Langkah langkah dalam menganalisis transaksi bisnis bisa dilakukan dalam urutan sebagai berikut:
  1. Tentukan pengaruh suatu transaksi pada akun aset, kewajiban, ekuitas pemilik, (termasuk akun pendapatan maupun akunbeban).
  2. Tentukan pengaruh transaksi tersebut pada setiap akun, apakah akun tersebut mengalami kenaikan atau penurunan.
  3. Tentukan apakah kenaikan atau penurunan akun tersebut harus dicatat disebelah kredit atau sebelah debet.
Untuk menganalisis pengaruh suatu transaksi terhadap akun-akun aset, kewajiban maupun ekuitas pemilik, perlu diingat kembali persamaan dasar akuntansi dan aturan pendebitan dan pengkreditan sebagaimana dalam bab sebelumnya.

Ada tiga jenis akun pada persamaan dasar akuntansi yaitu aset (Assets), kewajiban (liabilities) dan ekuitas (capital). Pencatatan transaksi ke dalam tiga akun ini diperlukan aturan pendebitan dan pengkreditan seperti  yang dijelaskan pada bab sebelumnya.

Apa yang dimaksud dengan Siklus akuntansi ?

Siklus akuntansi yang tergambar pada ilustrasi  dapat dijelaskan sesuai dengan urutan kejadiannya sebagai berikut:
1. Transaksi yang terjadi di perusahaan akan dicatat dalam dokumen sumber (a source document). Contoh dokumen sumber atau bukti transaksi diantaranya adalah kuitansi pembayaran atau penerimaan kas, faktur pembelian, faktur penjualan, kartu jam kerja, dan lain-lain.

 2. Transaksi yang terjadi dalam suatu periode dicatat menurut urutan kejadiannya dalam sebuah buku. Pencatatan ini lazimnya disebut dengan membuat jurnal. Dengan demikian mencatat transaksi sama artinya dengan menjurnal transaksi Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi atau membuat jurnal ini disebut dengan buku harian. Disebut buku harian karena pencatatan dalam buku ini harus dilakukan menurut urutan kejadiannya (kronologisnya) yang umumnya dilakukan setiap hari.
Dengan demikian jurnal dalam buku harian merupakan catatan permanen atas semua transaski bisnis perusahaan. Jurnal ini dilakukan atas dasar dokumen sumber yang disebut dengan bukti transaksi menurut aturan debit kredit sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya.

ilustrasi 4.1
3. Langkah berikutnya setelah membuat jurnal adalah memindahkan catatan di buku harian ke kelompok akun-akun yang disebut dengan buku besar (the ledger). Proses memindahkan dan mengelompokkan catatan dari buku harian ini ke dalam buku besar (the ledger) disebut dengan proses posting. Pada akhir periode- setelah semua transaksi dicatat dalam buku harian (jurnal) dan diposting ke akun seluruhnya dalam buku besar- saldo untuk masing-masing akun dihitung. Saldo adalah perbedaan antara sisi debit dengan sisi kredit untuk setiap jenis akun.

4. Langkah terakhir adalah menyiapkan daftar semua akun dan saldonya. Daftar ini disebut dengan neraca saldo (the trial balance). Neraca saldo dipersiapkan untuk melihat kesamaan debit dan kredit akun-akun yang ada di buku besar (the ledger). Ringkasan akun beserta saldonya yang terdaftar dalam neraca saldo (the trial balance) ini digunakan sebagai dasar untuk menyiapkan laporan  keuangan

Sebutkan jenis perusahaan yang beroperasi untuk menghasilkan laba dan Jenis-jenis Organisasi Perusahaan?

Terdapat 3 (tiga) jenis perusahaan yang beroperasi untuk menghasilkan laba, yaitu perusahaan manufaktur, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa. Setiap jenis perusahaan memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
 
1. Perusahaan manufaktur
Perusahaan ini mengubah input dasar menjadi produk jadi yang akan dijual kepada masing-masing pelanggan. Contoh perusahaan yang tergolong dalam perusahaan manufaktur, seperti PT Gudang Garam dengan produk utamanya adalah rokok, PT Unilever yang menghasilkan barang-barang konsumsi, seperti pasata gigi, sabun mandi, dan sebagainya.
 
2. Perusahaan dagang
Perusahaan ini juga menjual produk ke pelanggan, tetapi perusahaan ini tidak memproduksi sendiri barang yang akan dijual. Perusahaan membeli dari perusahaan lain barang yang akan dijualnya. Contoh perusahaan dagang adalah Alfamart, Alfa, Hero, dan sebagainya.
 
3. Perusahaan jasa
Perusahaan ini menghasilkan jasa, bukan barang atau produk yang kasat mata. Contoh perusahaan ini adalah Hotel Santika, Biro Perjalanan Shafira, dan sebagainya

Jenis-jenis Organisasi Perusahaan
Hampir semua organisasi memerlukan akuntansi. Dalam hal  tertentu, prosedur akuntansi dapat tergantung pada bentuk organisasi.
Oleh karena itu, sebelum membahas tentang materi akuntansi yang lebih jauh, perlu bagi kita untuk mengenal bentuk organisasi atau perusahaan. Umumnya terdapat 3 (tiga) bentuk perusahaan yang berbeda, yaitu perusahaan perorangan, perusahaan persekutuan, dan perusahaan perseroan. Masing-masing bentuk perusahaan ini memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Jenis-jenis perusahaan meliputi:
 
1. Perusahaan perseorangan
Perusahaan perseorangan dimiliki oleh individu, pemilik tunggal. Bentuk ini mudah pengelolaannya, biayanya juga tidak terlalu mahal.  Kelemahan utama bentuk perusahaan ini adalah sumberdaya keuangan yang terbatas pada harta milik pribadi

2. Perusahaan persekutuan
Perusahaan persekutuan dimiliki oleh dua atau lebih individu, masingmasing pemilik menyetorkan modalnya ke perusahaan untuk bekerja secara bersama-sama. Sumberdaya keuangan tidak hanya berasa pada satu orang saja, tetapi berasal dari beberapa pemilik perusahaan.
 
3. Perusahaan perseroan
Perusahaan perseroan Sering disebut juga korporasi. Perusahaan ini dibentuk berdasarkan peraturan pemerintah sebagai suatu badan hukum. Biasanya modalnya terdiri dari saham-saham, yang diterbitkan oleh korporasi tersebut dan dijual kepada masyarakat yang berminat. Keunggulan utama bentuk perusahaan korporasi adalah kemampuan untuk mendapat sejumlah sumberdaya keuangan dengan cara menerbitkan saham tersebut. Sehingga pemegang saham perusahaan ini bisa perorangan, atau individu yang membeli  saham perusahaan ini.

Jelaska tiga Fungsi dalam akuntansi keuangant iga Fungsi dalam Akuntansi Manajemen?

D. Bidang-bidang Spesialisasi Akuntansi
1. Akuntansi keuangan disebut juga akuntansi umum (general accounting). Informasi yang disajikan dari akuntansi keuangan berupa laporan keuangan, yang penggunanya adalah pengambil keputusan dari pihak luar perusahaan. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan bersifat umum untuk berbagai pengguna. Kelompok pengguna yang biasanya memerlukan informasi akuntansi keuangan adalah:
  1.  Pemilik perusahaan, menggunakan informasi keuangan ini untuk pengambilan keputusan apakah mereka akan tetap bertahan pada pemilikan perusahaan tersebut atau harus melepaskan kepemilikan dalam perusahaan.
  2. . Kreditor perusahaan, menggunakan informasi keuangan ini untuk pengambilan keputusan apakah pihaknya akan memperpanjang pemberian kredit perusahaan tersebut atau menolaknya
  3. Pemerintah menggunakan informasi ini sebagai dasar penetapan besarnya pajak, dsb
  4.  Karyawan memerlukan informasi keuangan ini untuk melakukan negosiasi dengan perusahaan dalam hal kontrak atau berbagai keputusan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan
  5.  Pelanggan perusahaan menggunakan informasi keuangan ini untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kerjasama dengan perusahaan Akuntansi keuangan biasanya meliputi 3 (tiga) fungsi, yaitu
(1) pemilihan dan pencatatan data, 
(2) analisis data, dan
 (3) menyiapkan laporan bagi pengguna. Ilustrasi 1.3 menunjukkan ketiga fungsi tersebut.
Ilustrasi 1.3: Tiga Fungsi dalam Akuntansi Keuangan
2. Akuntansi biaya (cost accounting), penganggaran masuk dalam kelompok akuntansi manajemen. Manajemen perusahaan harus menyediakan berbagai informasi untuk pencapaian sasaran. Kategori utama dari informasi yang diperlukan adalah untuk perencanaan dan pengendalian perusahaan yang bersifat harian. Manajemen harus mengetahui apa yang terjadi di perusahaan dan lingkungannya pada saat sekarang dan apakah operasi perusahaan bisa berjalan dengan lancar sebagaimana yang diinginkan untuk mencapai tujuannya. Kategori lain atas informasi yang dibutuhkan manajemen adalah untuk perencanaan jangka panjang, misalnya untuk menentukan kebijakan menyeluruh bagi perusahaan atau untuk membuat kebijakan khusus karena adanya kejadian di masa lampau yang tidak diinginkan akan terulang lagi di masa mendatang.
 
3. Akuntansi manajemen meliputi 3 (tiga) fungsi, yaitu: 
(1) pemilihan dan pencatatan data, 
(2) analisis data, dan 
(3) menyiapkan laporan bagi manajemen. Ketiga fungsi ini nampak dalam skema sebagai berikut:

Ilustrasi 1.4: Tiga Fungsi dalam Akuntansi Manajemen
4. Akuntansi pemeriksaan (Auditing).
Akuntansi pemeriksaan adalah bidang akuntansi yang berhubungan dengan kegiatan pemeriksaan terhadap catatan hasil kegiatan Akuntansi Keuangan yang bersifat pengujian atas kelayakan Laporan Keuangan secara bebas (independen/ tidak berpihak) dan obyektif.
 
5. Akuntansi perpajakan (Tax Accounting).
Bidang Akuntansi Perpajakan berhubungan dengan penentuan obyek pajak yang menjadi tanggungan perusahaan serta perhitungannya. Kegiatan akuntansi Perpajakan adalah membantu manajemen dalam menentukan pilihan-pilihan transaksi yang akan dilakukan sehubungan dengan pertimbangan perpajakan.
 
6. Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting).
Bidang kegiatan akuntansi anggaran berhubungan dengan pengumpulan dan pengolahan data operasi keuangan yang sudah terjadi serta taksiran kemungkinan yang akan terjadi, untuk kepentingan penetapan rencana operasi keuangan perusahaan (anggaran) dalam suatu periode tertentu.
 
7. Akuntansi Pemeriksaan (Governmental Accounting).
Akuntansi pemerintahan adalah bidang akuntansi yang kegiatannya berhubungan dengan masalah pemeriksaan keuangan Negara lazim disebut Administrasi Keuangan Negara.

Peran Akuntansi dalam Perusahaan dan Pengguna Akuntansi

Peran Akuntansi dalam Perusahaan dan Pengguna Akuntansi Pihak-pihak yang berkepentingan menggunakan laporan akuntansi sebagai sumber informasi utama untuk pengambilan  keputusan. Informasi lainpun juga diperlukan dalam pengambila keputusan perusahaan. Informasi-informasi tersebut ditampung menjadisatu, dianalisis dan pada akhirnya dipakai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Sebagai suatu sistem informasi, Akuntansi sangatlah diperlukan baik oleh pihak intern perusahaan, maupun dari luar perusahaan. Secara garis besar, pihak-pihak yang memerlukan informasi akuntansi adalah

1. Manajer. Seorang manajer perusahaan  memerlukan informasi akuntansi untuk  penyusunan perencanaan perusahaan, mengevaluasi kemajuan yang dicapai  perusahaan, serta melakukan tindakan koreksi yang diperlukan

2. Investor. Para investor sangat memerlukan data akuntansi suatu  organisasi untuk menganalisis perkembangan organisasi yang bersangkutan. Investor telah melakukan penanaman modal pada  suatu usaha, dengan tujuan untuk mendapatkan hasil. Sehingga,  investor harus melakukan analisis laporan keuangan perusahaan yang akan dipilihnya untuk disuntik dana dari investor.

3. Kreditor. Kreditor berkepentingan dengan data akuntansi, karena kreditor berkepentingan untuk pemberian kredit kepada calon nasabahnya. Nasabah yang dipilih kreditor adalah nasabah yang  mampu mengembalikan pokok pinjaman beserta bunganya pada waktu yang tepat. Oleh karena kreditor sangat berkepentingadengan laporan keuangan calon nasabah dan nasabahnya. 

4. Instansi Pemerintah. Instansi pemerintah sangat berkepentingan dengan informasi akuntansi. Dari informasi keuangan suatuorganisasi, pemerintah akan dapat menetapkan besarnya pajak yang harus dibayar oleh organisasi yang bersangkutan.
 


 Proses dimana akuntansi menghasilkan informasi bagi pengguna dijelaskan pada ilustrasi 1.2. Ilustrasi 1.2: Informasi Akuntansi dan Pihak yang Berkepentingan

5. Organisasi Nirlaba. Meski organisasi nirlaba bertujuan tidak untukmencari laba, organisasi ini masih sangat memerlukan informasikeuangan untuk tujuan penyusunan anggaran, membayarkaryawan dan membayar beban-beban yang lain
 
6. Pemakai lainnya. Informasi akuntansi juga diperlukan olehorganisasi lainnya seperti organisasi buruh, yang memerlukaninformasi akuntansi untuk mengajukan kenaikan gaji, tunjangantunjangan,serta mengetahui kemajuan perusahaan dimanamereka bekerja.

Tahap-tahap dalam menyusun laporan keuangan gabungan antara kantor pusat dan kantor cabang di luar negeri

TAHAP-TAHAP DALAM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN GABUNGAN
Tahap-tahap dalam menyusun laporan keuangan gabungan antara kantor pusat dan kantor cabang di luar negeri adalah sebagai berikut:
  1.  Atas dasar laporan keuangan kantor cabang terlebih dahulu harus diadakan penjabaran terhadap    saldo rekening-rekening pembukuan kantor cabang menjadi saldo-saldo yang dinyatakan dalam    mata uang dalam negeri yang dipakai kantor pusat
  2.  Proses penjabaran terhadap saldo rekening kantor cabang sebaiknya dimulai dengan mengambil dari angka yang terdapat pada neraca saldo (trial balance) yang dipakai sebagai dasar penyusuna neraca lajur (worksheet kantor cabang)
  3.  Apabila hasil penjabaran terhadap saldo rekening secara keseluruhan tidak seimbang (antar jumlah debit dan kredit sama) maka selisihnya ditampung dalam rekening penyesuaian kurs (exchange adjusment). Saldo selisih penyesuaian kurs, tersebut diperhitungkan sebagai laba atau rugi penyesuaian kur
  4.  Sesudah proses penjabaran terhadap saldo rekening pembukuan kantor cabang selesai kemudian menyusun daftar lajur gabungan (working papers)
  5.  Berdasar working paper tersebut baru disusun neraca dan laporan laba rugi gabungan antar kantor pusat dan kantor cabang
Contoh 1:
Berikut ini adalah ‘Neraca Saldo, per 31 Desember 2007 dari Brilliant LTD yang berkantor pusat di Jakarta dan cabangnya di New York

Tingkat kurs dollar yang berlaku selama tahun 2007 adalah sebagai
berikut:
  •  31-12-2007 atau tanggal neraca Rp 9.800,00 (C)
  • Rata-rata tahunan Rp 9.700,00 (A
  •  Historical Rp 9.700,00 (H)
Berdasar daftar kurs di atas, maka neraca saldo Kantor Cabang New York dapat dijabarkan dalam rupiah sebagaimana ditampilkan pada halaman berikut:
Ketarangan:
(C) = Current rate atau kurs pada saat tanggal neraca
(H) = Historical cost atau kurs pada saat terjadinya transaksi
(R) = Reciprocal account atau jumlah (nilai) rekening timbal balik, harus sesuai dengan saldo
         rekening-rekening reciprocal di kantor pusat
(A) = Average rate atau kurs rata-rata selama satu periode

Pengiriman uang atau barang dagangan antar kantor cabang

PENGIRIMAN UANG ATAU BARANG DAGANGAN ANTAR KANTOR CABANG
Apabila kantor pusat mempunyai beberapa kantor cabang ada kemungkinan terjadi transfer uang atau barang dagang antar kantor cabang. Transfer antar kantor cabang terjadi mungkin kantor cabang yang satu mempunyai kelebihan uang transfer antar kantor cabang tersebut harus atas perintah atau sepengetahuan kantor pusat. Sehingga bila ada transfer antar kantor cabang baik kantor pusat maupun kantor cabang pengirim dan kantor cabang penerima harus membuat catatan. Jadi dalam catatan kantor cabang pusat bisa terlihat bahwa uang atau barangnya telah berpindah dari kantor cabang yang satu ke kantor cabang yang lain. Apabila uang transfer uang atau barang dagangan antar cabang memerlukan ongkos angkut, biasanya terjaga rugi akibat kelebihan biaya kirim 
Misal:
Kantor pusat memiliki 2 (dua) kantor cabang. Kantor pusat mengkritik barang dagangan ke kantor cabang I dengan biaya kirim ke kantor cabang I Rp 100.000,00. Kemudian ternyata barang dagangan yang ada di kantor cabang I harus ditransfer ke kantor cabang II. Dalam pengiriman ini kantor cabang I mengeluarkan biaya kirim ke kantor cabang II Rp 80.000,00. Sebenarnya apabila barang dagangan tersebut dikirim langsung dari kantor pusat ke kantor cabang II biaya kirim yang diperlukan hanya Rp 120.000,00.
 
Dari contoh tersebut terlihat bahwa total biaya kirim barang dagangan dari kantor pusat ke kantor cabang II adalah sebesar Rp 100.000,00 + Rp 80.000,00 = Rp 180.000,00. Apabila barang dagangan tersebut dikirim langsung dari kantor pusat ke kantor cabang II hanya memerlukan biaya kirim Rp 120.000,00. Sehingga terdapat selisih biaya kirim Rp 180.000,00-Rp 120.000,00=Rp 60.000,00. Apabila digambarkan sebagai berikut:
Contoh 4:
Pada tanggal 1 Februari 2007 kantor pusat mengirim uang sebesar Rp 50.000.000,00 ke kantor cabang I. 1 Juli 2007 kantor pusat memerintahkan kantor cabang I agar mentransfer uang sebesar Rp 20.000.000,00 ke kantor cabang II. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
Contoh 5: 
1 Februari 2007 kantor pusat mengirim barang dagang seharga Rp 30.000.000,00 ke kantor cabang I. Biaya kirim barang dagangan dari kantor pusat ke kantor cabang I Rp 400.000,00. 1 Juli 2007 kantor pusat memerintahkan kantor cabang I agar mengirimkan barang dagangan yang diterima dari kantor pusat seharga Rp 10.000.000,00 ke kantor cabang II. Kantor cabang I mengeluarkan biaya kirim ke kantor cabang II sebesar Rp 150.000,00. Apabila kantor pusat mengirim langsung barang dagangan tersebut ke kantor cabang II kantor pusat memerlukan biaya kirim Rp 250.000,00.

Jelaskan tentang akuntansi pada kantor cabang?

AKUNTANSI KANTOR CABANG
 Kantor Cabang mempunyai kewenangan dalam melakukan transaksi penjualan. Oleh karena itu Kantor Cabang melaksanakan pembukuan tersendiri . Jadi baik Kantor Pusat maupun Kantor Cabang menyelenggarakan pencatatan akuntansi sendiri-sendiri. Pencatatan ini hanya berguna untuk pihak intern Kantor Pusat maupun Kantor Cabang. Untuk kepentingan pihak ekstern Kantor Pusat menyiapkan laporan konsolidasi yaitu laporan keuangan yang berisi Kinerja Keuangan Gabungan dari Kantor Pusat dan Kantor Cabang.

Berbeda dengan investasi kantor Pusat di kantor Agen yang hanya berupa modal kerja awal saja, investasi yang ditanamkan oleh Kantor Pusat ke Kantor Cabang meliputi semua kebutuhan awal kantor Cabang . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kantor Pusat bertindak sebagai Investor (pihak penyandang dana ) dan Kantor Cabang sebagai Investee (pihak penerima dana). Oleh karena itu diperlukan rekening yang bersifat Resiprokal (timbal balik) antara Kantor Pusat dan Kantor Cabang untuk menampung transaksi yang bersifat resiprokal ini, Kantor Pusat menggunakan nama rekening Kantor Cabang, sebaliknya Kantor Cabang menggunakan rekening Kantor Pusat. Rekening kantor cabang merupakan hak kantor pusat sedangkan rekening kantor pusat merupakan kewajiban kantor cabang. Dalam membuat laporan konsolidasi rekening resiprokal harus dieleminasi

Contoh transaksi yang mengakibatkan timbulnya rekening timbal balik/resiprokal ditampakkan pada contoh jurnal di bawah ini



Contoh :
Berikut ini adalah contoh transaksi-transaksi yang ada di kantor cabang dari PT. ”Dewi Ratih” berkedudukan di Malang dan bergerak dalam bidang alat-alat kesehatan, pada awal tahun 2007 membuka Kantor Cabang di Jember. Ikhtisar transaksi keuangan selama tahun 2007  diringkas sebagai berikut
  1.  Kantor Cabang menerima uang Rp 150.000.000,00 dari kantor pusat
  2. Kantor Cabang membeli peralatan secara tunai senilai Rp 75.000.000,00. Peralatan ini mempunyai umur ekonomis 5 tahu
  3.  Menerima barang dagangan senilai Rp 115.000.000,00 dari kantor pusat
  4.  Membeli barang dagangan dari supplier luar Rp 30.000.000,00 secara tuna
  5.  Menjual barang dagang seharga Rp 200.000.000,00 secara tunai
  6. Mengembalikan barang dagang yang diterima dari kantor pusat seharga Rp 7.500.000,00 karena barang tersebut rusak.
  7.  Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh kantor cabang sebagai berikut:
- Gaji Rp 30.000.000,00
- Bunga Rp 25.000.000,00
- Lain-lain Rp 15.000.000,00
8. Mengirim uang Rp 100.000.000,00 ke kantor pusat
9. Pada akhir tahun diketahui utang gaji sebesar Rp 7.000.000,00 dan biaya depresiasi Rp 15.000.000,00 10. Persediaan barang dagangan yang diterima dari kantor pusat pada akhir tahun Rp
      6.000.000,00. Persediaan barang dagangan yang dibeli dari supplier luar pada akhir tahun
       Rp 35.000.000,00

Metode pencatatan persediaan secara fisik
Dari data di atas, berikut ini adalah jurnal yang dibuat kantor pusat dan kantor cabang
Laporan Keuangan Konsolidasi
Dipandang dari segi ekonomi Kantor Pusat dan Kantor Cabang adalah satu kesatuan ekonomi. Disamping itu bagi pihak eksternal menganggap bahwa Kantor Pusat dan Kantor-kantor Cabangnya hanya merupakan satu perusahaan. Oleh karena itu sesuai dengan konsep enterprise (satu kesatuan ekonomi) Kantor Pusat harus menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi (Consolidated Income Statement) yang merupakan Laporan Keuangan Gabungan antara Kantor Pusat dan Kantor Cabang.

Prosedur penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi:
a. Membuat jurnal Eliminasi
b. Membuat Kertas Kerja (Worksheet)
c. Menyusun Laporan keuangan Konsolidasi

Jelaskan tentang akuntansi kantor agen?

AKUNTANSI KANTOR AGEN
Perbedaan paling mendasar pencatatan yang dilakukan Kantor Cabang dan Kantor Agen berhubungan dengan kewenangan masingmasing dalam menangani konsumen akhir. Kantor Cabang mempunyai kewenangan penuh sehubungan dengan transaksi penjualan termasuk menerima pembayaran secara langsung dari konsumen akhir, sedangkanKantor Agen tidak mempunyai kewenangan melakukan transaksi penjualan. Pencatatan akuntansi hanya dilakukan oleh Kantor Pusat. Kantor Cabang melaksanakan pembukuan tersendiri karena Kantor Cabang mempunyai kewenangan dalam melakukan transaksi penjualan. Kantor Agen dalam melakukan kegiatannya memperoleh fasilitas dari Kantor Pusat. Salah satu fasilitas tersebut adalah berupa uang yang merupakan modal kerja bagi Kantor Agen.

 Oleh karena itu pencatatan yang dilakukan oleh Kantor Agen hanya sebatas pertanggung jawaban atas modal kerja dari Kantor Pusat. Karena modal kerja dari Kantor Pusat diterima dalam bentuk uang tunai, maka dalam pengelolaannya seperti mengelola kas kecil dengan sistem imprest. Bukti-bukti pemakaian modal kerja harus dikumpulkan oleh Kantor Agen karena laporan ke Kantor Pusat dibuat berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut. Metode yang dapat dipakai oleh Kantor Pusat dalam melakukan pencatatan sehubungan dengan kegiatan di Kantor Agen, yaitu:
1. Laba atau rugi Kantor Agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi Kantor Pusat.
2. Laba atau rugi kantor agen dipisahkan dengan laba atau rugi kantor pusat.
 
Untuk tujuan pengendalian intern dan penilaian kinerja Kantor Pusat , sebaiknya digunakan metode yang kedua yaitu Laba atau Rugi Kantor Agen dipisahkan dengan Laba atau Rugi yang diperoleh Kantor Pusat sendiri. Apalagi bila kantor Agennya lebih dari satu. Dalam praktik yang sering digunakan adalah metode yang pertama atau laba /rugi kantor agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi Kantor Pusat. Penjelasan dari ke dua metode adalah sebagai berikut

1. Laba atau rugi kantor agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi kantor pusat
Dalam metode ini pendapatan dan biaya kantor agen tidak dipisahkan dengan pendapatan dan biaya kantor pusat. Sehingga tidak bisa diketahui laba atau rugi kantor agen secara tersendiri. Bila metode ini yang digunakan, Kantor Pusat hanya dapat mengetahui laba atau rugi secara total/keseluruhan.

2. Laba atau rugi Kantor Agen dipisahkan dengan laba atau rugi Kantor Pusat
Dalam metode ini pendapatan dan biaya kantor agen dipisahkan dari pendapatan dan biaya kantor pusat. Sehingga laba atau rugi kantor agen bisa diketahui secara individual. Apabila metode ini yang dipakai maka diperlukan rekening tersendiri. Rekening-rekening yang dibutuhkan bila digunakan metode ini antara lain:
a. Modal kerja kantor agen
b. Penjualan kantor agen
c. BPP kantor agen
d. Biaya pemasaran kantor agen
e. Biaya administrasi dan umum kantor agen

Apabila Kantor Pusat mempunyai Kantor Agen lebih dari satu, maka dapat digunakan salah satu dari cara berikut:
  1. rekening masing-masing Kantor Agen disendirikan atau diberikan kode berbeda
  2.  Kantor Pusat hanya memakai satu rekening buku besar untuk seluruh  Kantor Agen, sedangkan untuk masing-masing Kantor Agen hanya dibuatkan rekening pembantu.
    .

Jelaskan jurnal penjualan angsuran untuk barang tidak bergerak?

Penjualan Angsuran Untuk Barang Tidak Bergerak
Dalam praktek penjualan angsuran dapat dipakai baik untuk barang bergerak maupun barang tidak bergerak. Dalam penjualan angsuran pada umumnya laba kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Hal ini disebabkan ada kemungkinan terjadi pembatalan penjualan angsuran. Dengan metode ini bila terjadi pembatalan penjualan angsuran di catatan perusahaan tidak timbul rugi, tetapi mencatat keuntungan. Tetapi untuk penjualan angsuran barangbarang tidak bergerak tetap ada yang mengakui laba kotor pada periode penjualan.

Metode pencatatan untuk penjualan barang tidak bergerak berbeda dengan metode pencatatan untuk penjualan barang bergerak. Pada penjualan barang tidak bergerak, saat penjualan, nama barang yang bersangkutan langsung dikredit sebesar beban pokok penjualan. Selisih antara harga jual dan beban pokok penjualan langsung diakui sebagai laba kotor belum direalisasi.

Pada penjualan barang bergerak, laba kotor yang belum direalisasi belum diakui pada saat terjadi transaksi penjualan. Laba kotor yang belum direalisasi baru dihitung pada akhir periode. Hal ini disebabkan

Berikut ini adalah contoh penjualan angsuran untuk barang tidak bergerak dan penjualan angsuran untuk barang bergerak. Untuk penjualan angsuran barang tidak bergerak diberi contoh 2 metode pencatatan, yaitu laba diakui dalam periode penjualan dan laba diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Untuk penjualan barang bergerak hanya diberi contoh 1 metode pencatatan yaitu laba diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Karena pada umumnya untuk penjualan angsuran barang bergerak, laba diakui secara proporsional dengan penerimaan kas.


Penjualan Barang Tidak Bergerak
Contoh :

PT. Graha Sentosa adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang jual beli barang tidak bergerak. Pada tanggal 29 September 2006. PT. Graha Sentosa menjual rumah kepada Bapak Irfan. Harga pokok rumah saat dijual adalah Rp 140.000.000,00 sedangkan harga jualnya adalah Rp 200.000.000,00.

Beberapa ketentuan yang diatur didalam kontrak penjualan antara laiN
  •  Pembayaran pertama (down payment) sebesar Rp 40.000.000,00
  •  Untuk menjamin keamanan kepemilikan rumah tersebut PT. Graha Sentosa dan Bapak Irfan setuju untuk menghipotikkan rumah tersebut dari Bapak Irfan kepada PT. Graha Sentosa sebesar Rp 160.000.000,00. Akte hipotik ditandatangani pada tanggal 1 November 2006 dibayar 10 kali angsuran dengan pembayaran tiap kuartal @ Rp 16.000.000,00. Bunga hipotik sebesar 15% per tahun yang dihitung dari sisa pinjaman hipotik yang belum dibayar.
  •  Komisi dan biaya-biaya lainnya guna menyelesaikan akte hipotik sejumlah Rp 7.000.000,00 telah dibayar tunai oleh PT. Graha Sentosa. Angsuran pokok dan bunga hipotik untuk pertama kali dimulai pada tanggal 5 Januari 2007

Berikut ini adalah jurnal yang dibuat oleh PT Graha Sentosa

http://soalekonomi-sma.blogspot.com/2016/05/jelaskan-jurnal-penjualan-angsuran-untuk-barang-tidak-bergerak.html
LKD : Laba Kotor Direalisasi
LKBD :Laba Kotor Belum Direalisasi
Dalam praktek, kemungkinan dapat terjadi pembatalan penjualan angsuran baik untuk barang tidak bergerak maupun barang bergerak. Apabila dalam contoh di kasus ini terjadi pembatalan piutang penjualan angsuran pada tanggal 5 Mei 2008 karena pembeli tidak dapat mengangsur lagi, maka rumah tersebut dikembalikan kepada PT Graha Sentosa. Seandainya harga rumah saat dikembalikan adalah Rp 100.000.000,00. Besarnya Laba/Rugi yang timbul karena pembatalan ini akan tergantung pada metode yang digunakan:
http://soalekonomi-sma.blogspot.com/2016/05/jelaskan-jurnal-penjualan-angsuran-untuk-barang-tidak-bergerak.html
Jurnal yang dibuat saat pembatalan dan pemilikan kembali rumah adalah sebagai berikut
http://soalekonomi-sma.blogspot.com/2016/05/jelaskan-jurnal-penjualan-angsuran-untuk-barang-tidak-bergerak.html
Nilai Laba Kotor yg belum Direalisasi (LKBD) adalah (dlm Rp 000,00)
http://soalekonomi-sma.blogspot.com/2016/05/jelaskan-jurnal-penjualan-angsuran-untuk-barang-tidak-bergerak.html
Laba yang telah diakui sebelum terjadi pembatalan penjualan angsuran: Laba kotor dari uang muka = 30% x Rp 40.000.000,00 = Rp 12.000.000 Laba kotor angsuran Hipotik = 30% x Rp 64.000.000,00 = Rp 19.200.000 Rp 31.200.000
Diberdayakan oleh Blogger.